Senin, 02 Desember 2013

Pengambilan Keputusan



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul Pengambilan Keputusan”. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengantar Manajemen” .
Meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis banyak menemukan hambatan dan kesulitan, tetapi karena motivasi dan dorongan dari berbagai pihak makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa pada penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan sumbang saran dan keritik dari semua pihak yang membaca makalah ini yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak atas dukungannya sehingga terwujudnya makalah ini.











Bumiayu. 21 September 2013



Penulis


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR......................................................................................................   1         
DAFTAR ISI......................................................................................................................   2         
BAB  I  PENDAHULUAN...............................................................................................   3         
1.1. Latar Belakang..................................................................................................   3

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................  4         
2.1. Pengertian Pengambilan keputusan..............................................................................     4
2.2. Jenis-jenis Keputusan Manajer………………………………………………………..         4
2.3. Keputusan dan Jenjang Manajemen……………………………………………...…...        5
2.4. Tahap-tahap Pengambilan Keputusan………………………………………………...        6
2.5. Gaya Pengambilan Keputusan………………………………………………………...        8
2.6. Model Pengambilan Keputusan………………………………………………...……..        10
2.7. Keputusan Individu dan Kelompok……………………………………………..…….        11
            2.8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan…………......…... 14

BAB III PENUTUP..........................................................................................................    15
3.1. Kesimpulan.......................................................................................................   15

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................   16























BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri dunia bisnis dalam era global ini dihadapkan pada proses perubahan yang begitu cepat dan rumit.  Untuk itu kebutuhan akan perubahan yang dinamis dalam berbagai hal seperti visi, misi, tujuan dan sistem berpikir menjadi hal pokok yang harus dimiliki perusahaan. Dalam konteks organisasi belajar, setiap individu organisasi bisnis harus memiliki komitmen dan kapasitas untuk belajar pada setiap tingkat apapun dalam perusahaannya. Dengan kata lain setiap pekerjaan harus mengandung unsur pembelajaran yang semakin aktif.
Keterampilan membuat keputusan merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manager, terutama bagi kelompok manager atas (top manager).
Setiap orang dapat pula menginginkan perubahan dalam perjalanan hidup mereka, yang memutuskan untuk berubah, sudah tentu menghadapi resiko dan tantangan. Untuk orang yang ingin berubah, ia meyakini dalam berpikir untuk tidak terlalu cemas menghadapi masa depan. Keberanian mengambil keputusan menjadi wirausaha, sudah tentu berdasarkan pertimbangan yang mendalam dari satu keinginan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Merebut kesempatan yang ada disekeliling kita, kita meyakini pula memiliki kemampuan memanfaatkan otak untuk pandai melihat, mengenalinya serta mengikuti perkembangannya. Jadi memaksimumkan peluang masa datang pada orang sebanding dengan kecakapan, kemauan bertindak, kemauan memandang jauh, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang dunia usaha.
Kemampuan untuk merealisasikan keputusan atas kesempatan datang sekali dan tidak jarang pula banyak orang mengatakan kurang kesempatan baginya, atau dengan kata lain ia membela diri bahwa dirinya tidak pernah mendapat kesempatan.
Oleh karena itu sekali keputusan yang diambil menjadi wirausaha, maka saat ini dan seterusnya tidak pernah akan ada kesempatan untuk memaksimumkan peluang-peluang yang ada, kecuali anda meyakini benar bahwa jangan cemas menghadapi masa depan dengan kemauan yang keras untuk mewujudkannya melalui satu proses membangun kebiasaan yang efektif.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik.
Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :
1. G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
2. Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
3. Horold dan Cyril O’Donnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.


2.2. JENIS-JENIS KEPUTUSAN MANAJEMEN

Secara umum Herbert Simon membedakan antara dua jenis keputusan, yaitu:
1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)
Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang-ulang.  jika sering terjadi suatu situasi khusus, maka suatu biasanya akan di gunakan aturan, kebijakan, dan prosedur rutin untuk mencegahnya.  Pada tingkat tertentu, keputusan ini akan membatasi kebebasan orang manajer.  misalnya dalam memutuskan bahan baku yang harus tersedia di gudang.  di sisi lain keputusan terprogram dapat membebaskan manajer dari tugas-tugas rutin.

2.  Keputusan yang tidak terprogram (non- programmed decision)
Keputusan itu baru pertama kali muncul dan tidak tersusun , karena sifatnya yang demikian, maka tidak ada prosedur yang pasti untuk mengatasi persoalan, sebab persoalan tidak timbul dengan cara yang persis sama dengan sebelumnya atau karena persoalan itu rumit atau luar biasa pentingnya.  pengalaman dan intuisi manajer  sangat di perlukan untuk memecahkan permasalahn ini Karena belum ada pedoman khusus dalam menangani masalah tersebut.


·         Macam-macam keputusan terprogram dan tidak terprogram
JENIS KEPUTUSAN
TERPROGRAM
TIDAK TERPROGRAM
MASALAH
BERUANG DAN RUTIN
KOMPLEK DAN BARU
PROSEDUR
ATURAN-ATURAN PROSEDUR DAN KEBIJKAN
KREATIFITAS PEMECAHAN MASALAH
CONTOH
PENERAPAN GAJI KARYAWAN,PROMOSI JABATAN DAN PENETAPAN PERSEDIAAN BARANG
PENANGAN MASALAH INFLASI, PENGENALAN PRODUK BARU DAN PERKARA HUKUM

Berdasarkan jenjang dan tingkatannya, manajemen puncak seharusnya di pusatkan pada keputusan yang tidak terprogram, sedangkan manajemen jenjang pertama seharusnya memperhatikan keputusan yang di program, manajer pada tingkat menengah memusatkan perhatian mereka pada keputusan yang di program , dengan demikian dapatlah di katakan bahwa sifat dan jenis dari keputusan memiliki hubungan yang erat dengan tingkat manajemen dalam sebuah organisasi.
2.3. KEPUTUSAN DAN JENJANG MANAJEMEN
Setiap permasalahan yang dihadapi oleh manajer memerlukan keputusan-keputusan penting. keputusan yang di ambil oleh manajer sangat bergantung pada jenis permasalahan yang di hadapi dan macam keputusan yang di ambil.

Secara umum tingkatan  manajemen dalam organisasi itu ada tiga.
1. manajemen puncak (Top Manager)
Biasanya memutaskan keputusan yang tidak terprogram  mereka akan selalu berurusan dengan hal-hal yang bersifat luas, tak terstruktur, jarang muncul,dan mengundang ketidakpatian.  misalnya : apakah perusahaan akan melakuan ekspensi atau tidak, menambah tenaga kerja dan mesin baru atau tetap menggunakan mesin lama.

2. manajer menenah ( Middle Manager)
Sebagian besar organisasi kebanyakan memusatkan perhatiannya pada dua keputusan sekaligus. yaitu: keputusan tidak terprogram dan terprogram.

3. manajer rendah (Lower Manager)
Keputusan yang di ambil sebagian besar yang terprogram. permasalahan yang sering di hadapi  oleh mereka menuntut pengambilan keputusan yang terstruktur, sering di hadapi, munculnya berulang-ulang , dan mengandung tingkatan kepastian yang sangat besar. misalnya: menetapkan gaji karyawan, membuat program promosi untuk produk baru dan pengalokasian dana kepada bagian-bagian dalam organisasi




2.4. TAHAP-TAHAP PENGAMBIL KEPUTUSAN
Keputusan yang telah ditetapkan oleh manajer bukan merupakan tujuan organisasi. Keputusan tersebut lebih tepat dikatakan sebagai era yang dipandang tepat untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan. Herbert A. Simon mengajukan model yang bermanfaat sebagai dasar dalam proses pengambilan keputusan. Model tersebut memuat tiga tahap pokok, yaitu sebagai berikut :
1.      Riset yaitu mempelajari lingkungan atau kondisi yang memerlukan keputusan.
2.      Perancangan yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang mungkin. Kegiatan ini meliputi proses-proses untuk memahami masalah, menghasilkan pemecahan, danmenguji kelayakan pemecahan tersebut.
3.      Pemilihan yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dan totalitas yang ada.
James L. Gibson, dkk. Mengemukakan proses pengambilan keputusan seluruhnya terdiri atas enam tahapan.
Tahap 1.Identifikasi dan Definisi Masalah
Tahapan ini meliputi kegiatan pengumpulan informasi, proses informasi, dan pertimbangan yang mendalam.Seberapa besar tingkat kerumitan permasalahan yang dihadapi oleh organisasi dapat diukur dengan perbedaan antara tingkat hasil yang diharapkan pada perumusan tujuan dan sasaran dengan hasil yang dicapai sesungguhnya.
Beberapa indicator lain yang dapat membantu dalam melihat permasalahan organisasi adalah sebagai berikut :
a. Penyimpangan  kinerja
Indicator ini muncul apa bila terjadi sebuah perubahan secara tiba-tiba pada beberapa pola kinerja yang telah ditetapkan.Contohnya, meningkatnya perputaran karyawan, tingkat absensi yang meningkat, penurunan tingka tpenjualan, pengeluaran yang semakin meningkat, dan banyaknyaproduk yang rusak.

b. Masukan/kritikan orang lain
Berbagai tindakan orang diluar organisasi bias menjadi petunjuk adanya masalah. Pelanggan mungkin tidak puas dengan sebuah produk yang dikonsumsi, pemerintah memberikan tindakan hukum ,dan serikat buruh yang mungkin memberikan keluhannya.

c. Lingkungan
Lingkungan dapat memberi  informasi  masalah melalui berbagai cara. Sebagai contoh, jika pesaing sukses dalam meluncurkan produk baru yang menjadi pesaing produk organisasi, maka timbul suatu masalah.




Tipe-tipe Masalah
Secara umum tipe masalah dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu masalah terstruktur dan tidak terstruktur, serta masalah menghadapi krisis.

a. Masalah terstruktur
Masalah terstruktur merupakan masalah pada umumnya, terus terang dan jelas dalam hal informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Sebagai contoh, masalah-masalah pribadi biasanya terjadi ketika pembuatan keputusan kenaikan gaji dan promosi, permintaan liburan, tugas-tugas kepanitiaan, dsb.

b. Masalah tidak terstruktur
Masalah tidak terstruktur (unstructuredproblems) merupakan masalah yang membingungkan dan memiliki informasi yang terbatas dalam situasi yang baru atau tidak terduga. Contohnya, perusahaan dihadapkan pada problem dimana unit bisnisnya terpaksa dijual karena hilangnya pelanggan. Untuk mengantisipasi hal ini, organisasi biasanya selalu melakukan pelatihan terhadap karyawan terutama pada unit bisnis yang kronis.

c. Masalah menghadapi krisis
Suatu masalah krisis merupakan masalah yang tidak terduga dan dapat menghancurkan jika tidak tertangani dengan cepat dan tepat. Kemampuan untuk  menangani krisis dapat menjadi pengujian terakhir terhadap kemampuan seorang manajer dalam memecahkan persoalan organisasi.

Tahap 2. Mengembangkan Alternative Pemecahan
Proses pengembangan alternative dilakukan apabila permasalahan sudah teridentifikasi dan didefinisikan. Pengembangan alternative merupakan proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern yang relevan dari organisasi diperiksa untuk memberikan informasi  yang dapat dikembangkan menjadi alternative yang mungkin.
Tahap 3. Evaluasi Alternative Pemecahan
Dalam setiap situasi keputusan, sasaran dalam pengambilan keputusan adalah memilih alternative yang akan memberikan hasil yang paling menguntungkan dan yang paling kecil kerugiannya. Hal ini menunjukkan keharusan dan tujuan dan sasaran, karena dalam memilih alternative pengambilan keputusan harus berdasakan tujuan dan sasaran yang ditetapkan sebelumnya.
Pada situasi tertentu manajer menghadapi situasi yang relative pasti, konsekuensi dari keputusandapat diperkirakan dengan tingkat tingkat kepastian yang relative tinggi. Pada situasi lain, manajer lebih sering menghadapi situasi dengan ketidakpastian yang tinggi. Oleh karena itu, hubungan antara alternatifkeluaran berdasarkan pada tiga kondisi tersebut.
1. Kondisi Kepastian,. Dalam keadaan yang pasti, manajer memiliki informasi yang cukup untuk pemecahan masalah guna mengetahui alternative yang mungkin beserta hasilnya.
2. Kondisi bersiko, Dalam keadaan berisiko manajer kekurangan informasi lengkap pada alternative-alternatif tindakan dan konsekuensinya. Dalam hal ini manajer sebagai pengambil keputusan sama sekali tidak mengetahui kemungkinan luaran dari masing-masing alternative. Keadaan resiko merupakan suatu keadaan keputusan yang biasa bagi para manajer.

3. Kondisi ketidakpastia,. Ketidakpastian mendorong manajer untuk menekankan kreativitas dalam memecahkan masalah. Dalam kebanyakan kasus, tanggapan terhadap ketidakpastian sangat bergantung pada dugaan yang beralasan, dan firasat yang semuanya tanpa pertimbangan dan mungkin salah.
Tahap 4. Memilih Alternatif
Tahap keempat merupakan tindakan terpenting, yaitu memilih alternative terbaik yang dinilai dan dievaluasi. Tujuan pemilihan alternative adalah memecahkan masalah agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam kebanyakan  pengambilan keputusan, pemecahan yang optimal sering kali tidak mungkin. Hal inidisebabkan karena pengambil  keputusan tidak mungkin mengetahui semua alternative yang ada, konsekuensi masing-masing dan  probabilitas  terjadinya.
Tahap 5. Implementasi Keputusan
Implementasi mencakup penyampaian keputusan kepada orang-orang yang terkait dan mendapatkan komitmen mereka pada keputusan tersebut. Pekerjaan manajer tidak hanya terbatas pada keterampilan memilih pemecahan yang baik, akan tetapi meliputi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut, dan menjadi sebuah perilaku dalam bernegosiasi.
Tahap 6. Evaluasi dan Pengendalian
Tahap terakhir adalah monitor dan evaluasi. Tahap ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan keputusan yang diakhiri mengenai sasaran atau tujuan yang ingin dicapai.
Apabila sasaran semula harus diubah, maka pengambilan keputusan secara keseluruhan perlu diulangi. Hal yang penting adalah bahwa jika keputusan tersebut dilaksanakan, maka manajer tidak dapat beranggapan bahwa keluarannya akan memenuhi sasaran semula.

2.5. GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Para manajer memiliki berbagai gaya menyangkut pengambilan keputusan dan penyelesaian berbagai persoalan. Salah satu gaya pandangan mengenai gaya-gaya pengambilan keputusan bahwa ada tiga cara yang berbeda dimana para manajer mendekati masalah ditempat kerja.


Cara-cara  manajer dalam mendekati masalah-masalah tersebut antara lain;

1. Menghindari masalah
Seorang penghindar masalah mengabaikan informasi yang menunjuk kesebuah masalah. Para penghindar masalah ini tidak aktif dan tidak ingin menghadapi masalah.

2. Penyelesaian masalah
Seorang penyelesaian masalah mencoba menyelesaikan masalah-masalah  yang muncul. Mereka bersikap reaktif menghadapi  masalah-masalah yang timbul.

3. Pencari  masalah
Seorang pencari masalah secara aktif mencari masalah-masalah guna diselesaikan atau mencari peluang-peluang baru untuk dikejar.  Mereka menempuh pendekatan proaktif guna mengantisipasi masalah-masalah sebelum timbul.
            Dimensi lain menggambarkan toleransi seseorang akan ambiquitas. Sebagian diantara kita mempunyai toleransi. Ambiquitas yang rendah dan harus mempunyai konsistensi dan urutan dimana kita menyusun informasi sehingga ambiquitas itu diperkecil.  Menurut  S.P. Robins dan DA. DeCenzo gaya pengambilan keputusan manajemen, antara lain;
1. Gaya Direktif (pengarahan)
Orang yang memiliki gaya ini memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiquitas dan bersikap rasional dalam cara berpikirnya. Mereka  efisien dan logis. Tipe direktif membuat keputusan secara cepat dan memusatkan perhatian pada jangka pendek. Kecepatan dan efisiensi mereka dalam membuat keputusan seringkali mengakibatkan mereka mengambil keputusan dengan informasi minimum dan sedikit alternative saja.

2. Gaya Analitis.
Pembuat keputusan bergaya analitis mempunyai jauh lebih banyak toleransi  bagi ketidakjelasan dari pada jenis direktif. Mereka menginginkan lebih banyak informasi sebelum pengambilan keputusan dan merenungkan lebih banyak alternatif daripada pengambilan keputusan yang bersifat direktif. Para pengambilan keputusan ini paling dicirikan sebagai pengambilan keputusan yang hati-hati dengan  kemampuan untuk beradaptasi atau mengahadapi situasi-situasi yang khusus.

3. Gaya koseptual
Pribadi-pribadi dengan gaya koseptual sangat luas dalam pandangan merekadan akan meihat banyak alternatif. Mereka memusatkan perhatian dalam jangka panjang dan sangat baik dalam menemukan pemecahan masalah kreatif atas masalah-masalah.

4. Gaya Perilaku
Para pengambil keputusan bergaya perilaku bekerjasama dengan gaya orang lain, mereka menaruh perhatian terhadap prestasi anak buah dan rela menerima saran dari orang lain. Seringkali mereka menggunakan rapat untuk berkomunikasi meskipun mereka mencoba menghindari konflik. Penerimaan oleh orang lain itu penting bagi pengambilan keputusan yang bergaya perilaku.

Kebanyakan manajer mempunyai ciri lebih dari satu gaya, Meskipun beberapa manajer akan mengandalkan gaya domiannya. Para manajer lebih fleksibel dan dapat berpindah gaya bergantung pada situasinya.
Analitis
Konseptual
Direktif
Perilaku
            Tinggi
         Toleansi 
          Rendah
                              Rasional      cara berpikir         intuitif
               



2.6. MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Teori manajemen mengenal perbedaan anatara dua model utama dalam membuat keputusan, anatara lain:
1. Model Keputusan Klasik

Model keputusan klasik (classical decision model ) berpandangan bahwa manajer tidak bertindak dalam kepastian. Manajer menghadapi masalah yang telah terdefinisikan dengan jelas dan mengetahui kemungkinan semua semua alternative tindakan dan konsekuensinya. Akibatnya, keputusan optimis terbuat. Pendekatan klasik ini merupakan modelyang sangat rasional untuk pembuat keputusan manajerial.

2. Model Keputusan Administratif
            Pendekatan administrative menggambarkan perilaku yang sangat berbeda dengan pendekatan rasional. Pendekatan rasional menjelaskan model ideal, yaitu bagaimana manajer seharusnya berperilaku dalam dalam pengambilan keputusan. Sedangka pendekatan administrative menggambarkan perilaku yang lebih realitas dalam pengambilan keputusan.






HEURISTIK PENILAIAN

Heuristik yaitu strategi yang disederhanakan dalam pengambilan keputusan.
Tiga macam heuristic yang sering dipakai  orang dalam pengambilan keputusan, yaitu:

a). Ketersediaan (availabikity heuristic)
Terjadi ketika orang menggunakan informasi “yang telah tersedia” dari memori sebagai basis penilaian situasi atau peristiwa yang sedang berlangsung.

b). Perwakilan (representativeness heuristic)
Terjadi bila orang menilai kemiripan sesuatu berdasarkan steroitip seperangkat peristiwa yang sama.

c). Penyesuaian dan anchoring (anchoring and adjusmen heuristic)
Meliputi pembuat keputusan terhadap penyesuaian terhadap nilai atau titik tolak yang telah ada.


2.7.KEPUTUSAN INDIVIDU DAN KELOMPOK
Dalam keputusan individual, manajer membuat pilihan tindakan yang disukai. Keputusan ini dibuat sendiri, berdasarkan informasi yang dimiliki manajer, dan tanpa partisipasi orang lain.
Beberapa perbedaan individu mempengaruhi pengambilan keputusan. Beberapa factor perilaku hanya mempunyai aspek-aspek tertentu dari proses pengambilan keputusan, sedangkan factor-faktor lain mempengaruhi seluruh proses. Factor-faktor perilaku tersebut meliputi kepribadian, nilai, kecenderungan akan resiko dan kemungkinan ketidakcocokan.
Kepribadian
Para pengambil keputusan dipengaruhi oleh salah satunya yang terpenting adalah kepribadian mereka. Sebuah penelitian telah berusaha menentukan pengaruh dari beberapa variable terpilih terhadap proses pengambilan keputusan. Penelitian tersebut tidak hanya memusatkan perhatian pada serangkaian variable kepribadian, tetapi juga memasukkan tiga rangkaian variable lain, yaitu :
1. Variable kepribadian. Hal ini mencakup sikap, kepercayaan, dan kebutuhan individu.
2. Variable situasional. Menyinggung situasi ekstern, yang dapat diamati, yang dihadapi oleh orang-orang itu sendiri.
3. Variable interaksional. Ini menyinggung keadaan pada saat itu dari orang-orang sebagai akibat dari interaksi situasi tertentu dengan ciri-ciri khas kepribadian orang.
Nilai
nilai adalah pedoman yang digunakan setiap orang ketika berhadapan dengan situasi dimana suatu keputusan harus dibuat. Pengaruh nilai dapat dilihat dari setiap proses pengambilan keputusan manajemen, sebagai berikut :
1.      Dalam menetapkan sasaran, pertimbangan nilai perlu sekali mengenai pemilihan kesempatan dan penentuan prioritas.
2.      Dalam mengembangkan alternative, orang perlu mempertimbangkan nilai mengenai berbagaimacam kepemimpinan.
3.      Apabila memilih alternative, nilai dari orang yang mengambil keputusan mempengaruhi alternative manakah yang akan dipilih.
4.      Apabila melaksanakan keputusan, pertimbangan nilai sangat perlu dalam memilih cara melaksanakannya.
5.      Dalam fase evaluasi dan pengendalian, pertimbangan nilai tidak dapat dihindari apabila mengambil tindakan koreksi.

Kecenderungan akan risiko
Seorang pengambil keputusan yang agak segan mengambil risiko akan menetapkan sasaran yang berbeda, mengevaluasi alternative secara berbeda juga, dan memilih alternative yang berbeda dari orang lain yang mengambil keputusan dalam situasi yang sama. Orang tersebut akan berusaha menetapkan pilihan dimana risiko atas ketidakpastian sangat rendah atau dimana kepastian akan hasilnya sangat tinggi.
Kemungkinan ketidakcocokan
Sangat dimungkinkan bahwa keputusan yang diambil seseorang nantinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketidakcocokan itu nantinya akan menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi pengambil keputusan. Terjadinya kegelisahan setelah keputusan (occurrence of postdecision anxiety) berkaitan dengan apa yang dinamakan oleh Festinger “disonansi kognitif” atau ketidakcocokan kognitif (cognitive dissonance).
Apabila terjadi ketidakcocokan, maka ketidakcocokan ini dapat dikurangi dengan mengakui bahwa telah terjadi kesalahan. Beberapa metode ini untuk mengurangi ketidakcocokan mereka, yaitu :
1.      Mencari informasi yang mendukung kebijaksanaan dari keputusan mereka.
2.      Secara selektif memahami informasi dengan sesuatu cara yang dapat mendukung keputusan mereka.
3.      Mengubah sikap mereka sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alternative yang telah ditetapkan sebelumnya.
4.      Mengelakkan pentingnya segi-segi negative dan mempertinggi unsur-unsur.

Selain pengambilan keputusan individual, alternative lain dari pengambilan keputusan adalah pengambilan keputusan kelompok. Pengambilan keputusan  kelompok memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.
Keuntungan
·         Informasi dan pengetahuan lebih banyak
·         Lebih banyak alternative yang dapat dihasilkan
·         Penerimaan terhadap hasil akhir akan lebih besar
·         Komunikasi yang lebih baik akan muncul

Kerugian
·         Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar karena waktu yang hilang lebih banyak
·         Menimbulkan kompromitis
·         Satu atau beberapa orang barangkali akan mendominasi kelompok
·         Tekanan kelompok akan muncul dan membatasi kreativitas individual

Untuk meminimumkan kerugian dari pengambilan keputusan kelompok, perlu dilakukan beberapa penyesuaian-penyesuaian. Misalnya, untuk menghindari waktu yang berlarut-larut, dapat ditentukan jadwal (deadline), tidak memasang atau menempatkan orang-orang yang diperkirakan akan mendominasi keputusan, atau dipasang beberapa orang dominan agar ada perimbangan dalam kelompok tersebut. Untuk menghindari tekanan kelompok, manajer dapat mengingatkan anggota kelompok bahwa kreativitas sangat dihargai, tidak ada salah dan benar dalam diskusi.

2.8. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Banyak factor yang mempengaruhi individu dan kelompok dalam mengambil keputusan,
 antara lain;

1. Faktor internal
            Dari dalam diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Factor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik, cultural social, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat, pengetahuan,dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.

2. Faktor eksternal
            Factor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah bagaimanaevaluasi itu dapat dilaksanakan. nilai dilakukan oleh salah satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, social, dan kultural.
















BAB III
PENUTUPAN


3.1.  KESIMPULAN
Dari penjelasan yang kami paparkan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Dimana pengambilan keputusan ini ditanggung dan diputuskan oleh pemimpin organisasi yang bersangkutan dan untuk menghasilkan keputusan yang baik itu sangat dibutuhkan informasi yang lengkap mengenai permaslahan, inti masalah, penyelesaian masalah, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Selain informasi dalam penyelesaian masalah pun perumusan masalah dengan baik. Kemudian dibutuhkan alternatif-alternatif keputusan masalah disertai dengan konsekuensi postif dan negative. Jika semua hal itu dapat dikemukakan dan dicari secara tepat, masalah tersebut akn mudah diselasaikan.














DAFTAR PUSTAKA
·         Amirullah, & budiyono, Haris. (2004). Pengantar manajemen. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar