KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunianya penulis dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul ”Pengambilan
Keputusan”. Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengantar Manajemen” .
Meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis banyak
menemukan hambatan dan kesulitan, tetapi karena motivasi dan dorongan dari
berbagai pihak makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa pada penulisan makalah ini
masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan sumbang
saran dan keritik dari semua pihak yang membaca makalah ini yang sifatnya
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi
semua pihak yang membacanya. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak atas dukungannya sehingga terwujudnya makalah ini.
Bumiayu. 21
September 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 1
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 3
1.1.
Latar
Belakang.................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................... 4
2.1. Pengertian Pengambilan
keputusan.............................................................................. 4
2.2. Jenis-jenis Keputusan Manajer……………………………………………………….. 4
2.3.
Keputusan dan Jenjang Manajemen……………………………………………...…... 5
2.4. Tahap-tahap Pengambilan Keputusan………………………………………………... 6
2.5.
Gaya Pengambilan Keputusan………………………………………………………... 8
2.6.
Model Pengambilan Keputusan………………………………………………...…….. 10
2.7.
Keputusan Individu dan Kelompok……………………………………………..……. 11
2.8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pengambilan Keputusan…………......…... 14
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 15
3.1. Kesimpulan....................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri dunia bisnis
dalam era global ini dihadapkan pada proses perubahan yang begitu cepat dan
rumit. Untuk itu kebutuhan akan
perubahan yang dinamis dalam berbagai hal seperti visi, misi, tujuan dan sistem
berpikir menjadi hal pokok yang harus dimiliki perusahaan. Dalam konteks organisasi
belajar, setiap individu organisasi bisnis harus memiliki komitmen dan
kapasitas untuk belajar pada setiap tingkat apapun dalam perusahaannya. Dengan
kata lain setiap pekerjaan harus mengandung unsur pembelajaran yang semakin
aktif.
Keterampilan membuat keputusan merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manager, terutama bagi kelompok manager atas (top manager).
Keterampilan membuat keputusan merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manager, terutama bagi kelompok manager atas (top manager).
Setiap orang dapat pula menginginkan perubahan dalam
perjalanan hidup mereka, yang memutuskan untuk berubah, sudah tentu menghadapi
resiko dan tantangan. Untuk orang yang ingin berubah, ia meyakini dalam
berpikir untuk tidak terlalu cemas menghadapi masa depan. Keberanian mengambil
keputusan menjadi wirausaha, sudah tentu berdasarkan pertimbangan yang mendalam
dari satu keinginan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Merebut kesempatan yang ada
disekeliling kita, kita meyakini pula memiliki kemampuan memanfaatkan otak
untuk pandai melihat, mengenalinya serta mengikuti perkembangannya. Jadi
memaksimumkan peluang masa datang pada orang sebanding dengan kecakapan,
kemauan bertindak, kemauan memandang jauh, pengalaman dan pengetahuan mereka
tentang dunia usaha.
Kemampuan untuk merealisasikan keputusan atas kesempatan datang sekali dan tidak jarang pula banyak orang mengatakan kurang kesempatan baginya, atau dengan kata lain ia membela diri bahwa dirinya tidak pernah mendapat kesempatan.
Oleh karena itu sekali keputusan yang diambil menjadi wirausaha, maka saat ini dan seterusnya tidak pernah akan ada kesempatan untuk memaksimumkan peluang-peluang yang ada, kecuali anda meyakini benar bahwa jangan cemas menghadapi masa depan dengan kemauan yang keras untuk mewujudkannya melalui satu proses membangun kebiasaan yang efektif.
Kemampuan untuk merealisasikan keputusan atas kesempatan datang sekali dan tidak jarang pula banyak orang mengatakan kurang kesempatan baginya, atau dengan kata lain ia membela diri bahwa dirinya tidak pernah mendapat kesempatan.
Oleh karena itu sekali keputusan yang diambil menjadi wirausaha, maka saat ini dan seterusnya tidak pernah akan ada kesempatan untuk memaksimumkan peluang-peluang yang ada, kecuali anda meyakini benar bahwa jangan cemas menghadapi masa depan dengan kemauan yang keras untuk mewujudkannya melalui satu proses membangun kebiasaan yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Pengambilan
keputusan (desicion making) adalah
melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah
melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan
dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat
keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama,
menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang
terbaik.
Secara umum, pengertian
pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :
1. G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan
keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua
atau lebih alternatif yang mungkin.
2. Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan
manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan,
penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
3. Horold dan Cyril O’Donnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan
diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan,
suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu
sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
2.2. JENIS-JENIS KEPUTUSAN MANAJEMEN
Secara
umum Herbert Simon membedakan antara dua jenis keputusan, yaitu:
1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)
Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur atau
yang muncul berulang-ulang. jika sering
terjadi suatu situasi khusus, maka suatu biasanya akan di gunakan aturan,
kebijakan, dan prosedur rutin untuk mencegahnya. Pada tingkat tertentu, keputusan ini akan
membatasi kebebasan orang manajer.
misalnya dalam memutuskan bahan baku yang harus tersedia di gudang. di sisi lain keputusan terprogram dapat
membebaskan manajer dari tugas-tugas rutin.
2. Keputusan yang tidak terprogram (non- programmed decision)
Keputusan
itu baru pertama kali muncul dan tidak tersusun , karena sifatnya yang
demikian, maka tidak ada prosedur yang pasti untuk mengatasi persoalan, sebab
persoalan tidak timbul dengan cara yang persis sama dengan sebelumnya atau
karena persoalan itu rumit atau luar biasa pentingnya. pengalaman dan intuisi manajer sangat di perlukan untuk memecahkan
permasalahn ini Karena belum ada pedoman khusus dalam menangani masalah
tersebut.
·
Macam-macam keputusan terprogram
dan tidak terprogram
JENIS KEPUTUSAN
|
TERPROGRAM
|
TIDAK TERPROGRAM
|
MASALAH
|
BERUANG DAN RUTIN
|
KOMPLEK DAN BARU
|
PROSEDUR
|
ATURAN-ATURAN PROSEDUR DAN KEBIJKAN
|
KREATIFITAS PEMECAHAN MASALAH
|
CONTOH
|
PENERAPAN GAJI KARYAWAN,PROMOSI JABATAN DAN PENETAPAN
PERSEDIAAN BARANG
|
PENANGAN MASALAH INFLASI, PENGENALAN PRODUK BARU DAN
PERKARA HUKUM
|
Berdasarkan
jenjang dan tingkatannya, manajemen puncak seharusnya di pusatkan pada
keputusan yang tidak terprogram, sedangkan manajemen jenjang pertama seharusnya
memperhatikan keputusan yang di program, manajer pada tingkat menengah
memusatkan perhatian mereka pada keputusan yang di program , dengan demikian
dapatlah di katakan bahwa sifat dan jenis dari keputusan memiliki hubungan yang
erat dengan tingkat manajemen dalam sebuah organisasi.
2.3.
KEPUTUSAN DAN JENJANG MANAJEMEN
Setiap
permasalahan yang dihadapi oleh manajer memerlukan keputusan-keputusan penting.
keputusan yang di ambil oleh manajer sangat bergantung pada jenis permasalahan
yang di hadapi dan macam keputusan yang di ambil.
Secara umum tingkatan manajemen dalam organisasi itu ada tiga.
1. manajemen
puncak (Top Manager)
Biasanya
memutaskan keputusan yang tidak terprogram
mereka akan selalu berurusan dengan hal-hal yang bersifat luas, tak
terstruktur, jarang muncul,dan mengundang ketidakpatian. misalnya : apakah perusahaan akan melakuan
ekspensi atau tidak, menambah tenaga kerja dan mesin baru atau tetap
menggunakan mesin lama.
2. manajer
menenah ( Middle Manager)
Sebagian besar
organisasi kebanyakan memusatkan perhatiannya pada dua keputusan sekaligus.
yaitu: keputusan tidak terprogram dan terprogram.
3. manajer
rendah (Lower Manager)
Keputusan yang
di ambil sebagian besar yang terprogram. permasalahan yang sering di
hadapi oleh mereka menuntut pengambilan
keputusan yang terstruktur, sering di hadapi, munculnya berulang-ulang , dan
mengandung tingkatan kepastian yang sangat besar. misalnya: menetapkan gaji
karyawan, membuat program promosi untuk produk baru dan pengalokasian dana
kepada bagian-bagian dalam organisasi
2.4.
TAHAP-TAHAP PENGAMBIL KEPUTUSAN
Keputusan yang telah ditetapkan oleh manajer bukan merupakan
tujuan organisasi. Keputusan tersebut lebih tepat dikatakan sebagai era yang
dipandang tepat untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan. Herbert A. Simon mengajukan model yang
bermanfaat sebagai dasar dalam proses pengambilan keputusan. Model tersebut memuat
tiga tahap pokok, yaitu sebagai berikut :
1. Riset
yaitu mempelajari lingkungan atau kondisi yang memerlukan keputusan.
2.
Perancangan
yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang mungkin.
Kegiatan ini meliputi proses-proses untuk memahami masalah, menghasilkan pemecahan,
danmenguji kelayakan pemecahan tersebut.
3.
Pemilihan
yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dan totalitas yang ada.
James L. Gibson,
dkk. Mengemukakan proses pengambilan keputusan seluruhnya terdiri atas enam tahapan.
Tahap
1.Identifikasi dan Definisi Masalah
Tahapan
ini meliputi kegiatan pengumpulan informasi, proses informasi, dan pertimbangan
yang mendalam.Seberapa besar tingkat kerumitan permasalahan yang dihadapi oleh organisasi
dapat diukur dengan perbedaan antara tingkat hasil yang diharapkan pada perumusan
tujuan dan sasaran dengan hasil yang dicapai sesungguhnya.
Beberapa
indicator lain yang dapat membantu dalam melihat permasalahan organisasi adalah
sebagai berikut :
a. Penyimpangan kinerja
Indicator
ini muncul apa bila terjadi sebuah perubahan secara tiba-tiba pada beberapa pola
kinerja yang telah ditetapkan.Contohnya, meningkatnya perputaran karyawan,
tingkat absensi yang meningkat, penurunan tingka tpenjualan, pengeluaran yang
semakin meningkat, dan banyaknyaproduk yang rusak.
b. Masukan/kritikan
orang lain
Berbagai
tindakan orang diluar organisasi bias menjadi petunjuk adanya masalah. Pelanggan
mungkin tidak puas dengan sebuah produk yang dikonsumsi, pemerintah memberikan tindakan
hukum ,dan serikat buruh yang mungkin memberikan keluhannya.
c. Lingkungan
Lingkungan
dapat memberi informasi masalah melalui berbagai cara. Sebagai contoh,
jika pesaing sukses dalam meluncurkan produk baru yang menjadi pesaing produk organisasi,
maka timbul suatu masalah.
Tipe-tipe
Masalah
Secara umum tipe
masalah dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu masalah terstruktur dan tidak terstruktur,
serta masalah menghadapi krisis.
a. Masalah terstruktur
Masalah terstruktur
merupakan masalah pada umumnya, terus terang dan jelas dalam hal informasi yang
dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Sebagai contoh, masalah-masalah pribadi biasanya
terjadi ketika pembuatan keputusan kenaikan gaji dan promosi, permintaan liburan,
tugas-tugas kepanitiaan, dsb.
b.
Masalah tidak terstruktur
Masalah tidak terstruktur (unstructuredproblems) merupakan masalah
yang membingungkan dan memiliki informasi yang terbatas dalam situasi yang baru
atau tidak terduga. Contohnya, perusahaan dihadapkan pada problem dimana unit
bisnisnya terpaksa dijual karena hilangnya pelanggan. Untuk mengantisipasi hal ini,
organisasi biasanya selalu melakukan pelatihan terhadap karyawan terutama pada
unit bisnis yang kronis.
c.
Masalah menghadapi krisis
Suatu masalah krisis merupakan masalah
yang tidak terduga dan dapat menghancurkan jika tidak tertangani dengan cepat dan
tepat. Kemampuan untuk menangani krisis dapat menjadi pengujian terakhir
terhadap kemampuan seorang manajer dalam memecahkan persoalan organisasi.
Tahap 2. Mengembangkan Alternative Pemecahan
Proses pengembangan alternative dilakukan apabila permasalahan
sudah teridentifikasi dan didefinisikan. Pengembangan alternative merupakan
proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern yang relevan dari organisasi
diperiksa untuk memberikan informasi
yang dapat dikembangkan menjadi alternative yang mungkin.
Tahap 3. Evaluasi Alternative Pemecahan
Dalam setiap situasi keputusan, sasaran dalam pengambilan
keputusan adalah memilih alternative yang akan memberikan hasil yang paling
menguntungkan dan yang paling kecil kerugiannya. Hal ini menunjukkan keharusan dan
tujuan dan sasaran, karena dalam memilih alternative pengambilan keputusan harus
berdasakan tujuan dan sasaran yang ditetapkan sebelumnya.
Pada situasi tertentu manajer menghadapi situasi
yang relative pasti, konsekuensi dari keputusandapat diperkirakan dengan tingkat
tingkat kepastian yang relative tinggi. Pada situasi lain, manajer lebih sering
menghadapi situasi dengan ketidakpastian yang tinggi. Oleh karena itu, hubungan
antara alternatifkeluaran berdasarkan pada tiga kondisi tersebut.
1. Kondisi Kepastian,. Dalam keadaan yang pasti, manajer memiliki informasi
yang cukup untuk pemecahan masalah guna mengetahui alternative yang mungkin beserta
hasilnya.
2.
Kondisi bersiko, Dalam keadaan berisiko
manajer kekurangan informasi lengkap pada alternative-alternatif tindakan dan konsekuensinya.
Dalam hal ini manajer sebagai pengambil keputusan sama sekali tidak mengetahui kemungkinan
luaran dari masing-masing alternative. Keadaan resiko merupakan suatu keadaan keputusan
yang biasa bagi para manajer.
3.
Kondisi ketidakpastia,.
Ketidakpastian mendorong manajer untuk menekankan kreativitas dalam memecahkan masalah.
Dalam kebanyakan kasus, tanggapan terhadap ketidakpastian sangat bergantung pada
dugaan yang beralasan, dan firasat yang semuanya tanpa pertimbangan dan mungkin
salah.
Tahap 4. Memilih Alternatif
Tahap keempat merupakan tindakan terpenting, yaitu memilih
alternative terbaik yang dinilai dan dievaluasi. Tujuan pemilihan alternative
adalah memecahkan masalah agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan
sebelumnya.
Dalam kebanyakan
pengambilan keputusan, pemecahan yang optimal sering kali tidak mungkin.
Hal inidisebabkan karena pengambil keputusan
tidak mungkin mengetahui semua alternative yang ada, konsekuensi masing-masing dan probabilitas
terjadinya.
Tahap 5. Implementasi Keputusan
Implementasi mencakup penyampaian keputusan kepada orang-orang
yang terkait dan mendapatkan komitmen mereka pada keputusan tersebut. Pekerjaan
manajer tidak hanya terbatas pada keterampilan memilih pemecahan yang baik,
akan tetapi meliputi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk melaksanakan
pemecahan masalah tersebut, dan menjadi sebuah perilaku dalam bernegosiasi.
Tahap 6. Evaluasi dan Pengendalian
Tahap
terakhir adalah monitor dan evaluasi. Tahap ini dilakukan untuk memastikan bahwa
pelaksanaan keputusan yang diakhiri mengenai sasaran atau tujuan yang ingin dicapai.
Apabila
sasaran semula harus diubah, maka pengambilan keputusan secara keseluruhan perlu
diulangi. Hal yang penting adalah bahwa jika keputusan tersebut dilaksanakan,
maka manajer tidak dapat beranggapan bahwa keluarannya akan memenuhi sasaran semula.
2.5. GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Para manajer memiliki berbagai gaya menyangkut
pengambilan keputusan dan penyelesaian berbagai persoalan. Salah satu gaya
pandangan mengenai gaya-gaya pengambilan keputusan bahwa ada tiga cara yang
berbeda dimana para manajer mendekati masalah ditempat kerja.
Cara-cara manajer dalam mendekati masalah-masalah
tersebut antara lain;
1. Menghindari
masalah
Seorang
penghindar masalah mengabaikan informasi yang menunjuk kesebuah masalah. Para
penghindar masalah ini tidak aktif dan tidak ingin menghadapi masalah.
2. Penyelesaian
masalah
Seorang
penyelesaian masalah mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. Mereka bersikap reaktif
menghadapi masalah-masalah yang timbul.
3. Pencari masalah
Seorang pencari
masalah secara aktif mencari masalah-masalah guna diselesaikan atau mencari
peluang-peluang baru untuk dikejar.
Mereka menempuh pendekatan proaktif guna mengantisipasi masalah-masalah
sebelum timbul.
Dimensi lain menggambarkan toleransi seseorang akan
ambiquitas. Sebagian diantara kita mempunyai toleransi. Ambiquitas yang rendah
dan harus mempunyai konsistensi dan urutan dimana kita menyusun informasi sehingga
ambiquitas itu diperkecil. Menurut S.P.
Robins dan DA. DeCenzo gaya
pengambilan keputusan manajemen, antara lain;
1. Gaya Direktif (pengarahan)
Orang yang memiliki
gaya ini memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiquitas dan bersikap
rasional dalam cara berpikirnya. Mereka efisien dan logis. Tipe direktif membuat
keputusan secara cepat dan memusatkan perhatian pada jangka pendek. Kecepatan
dan efisiensi mereka dalam membuat keputusan seringkali mengakibatkan mereka
mengambil keputusan dengan informasi minimum dan sedikit alternative saja.
2. Gaya Analitis.
Pembuat keputusan
bergaya analitis mempunyai jauh lebih banyak toleransi bagi ketidakjelasan dari pada jenis direktif.
Mereka menginginkan lebih banyak informasi sebelum pengambilan keputusan dan
merenungkan lebih banyak alternatif daripada pengambilan keputusan yang
bersifat direktif. Para pengambilan keputusan ini paling dicirikan sebagai
pengambilan keputusan yang hati-hati dengan
kemampuan untuk beradaptasi atau mengahadapi situasi-situasi yang
khusus.
3. Gaya
koseptual
Pribadi-pribadi dengan
gaya koseptual sangat luas dalam pandangan merekadan akan meihat banyak
alternatif. Mereka memusatkan perhatian dalam jangka panjang dan sangat baik
dalam menemukan pemecahan masalah kreatif atas masalah-masalah.
4. Gaya Perilaku
Para pengambil
keputusan bergaya perilaku bekerjasama dengan gaya orang lain, mereka menaruh
perhatian terhadap prestasi anak buah dan rela menerima saran dari orang lain.
Seringkali mereka menggunakan rapat untuk berkomunikasi meskipun mereka mencoba
menghindari konflik. Penerimaan oleh orang lain itu penting bagi pengambilan
keputusan yang bergaya perilaku.
Kebanyakan manajer mempunyai ciri lebih
dari satu gaya, Meskipun beberapa manajer akan mengandalkan gaya domiannya.
Para manajer lebih fleksibel dan dapat berpindah gaya bergantung pada
situasinya.
Analitis
|
Konseptual
|
Direktif
|
Perilaku
|
Tinggi
Toleansi
Rendah
Rasional cara berpikir intuitif
2.6.
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Teori
manajemen mengenal perbedaan anatara dua model utama dalam membuat keputusan,
anatara lain:
1. Model
Keputusan Klasik
Model keputusan
klasik (classical decision model ) berpandangan bahwa manajer tidak bertindak
dalam kepastian. Manajer menghadapi masalah yang telah terdefinisikan dengan
jelas dan mengetahui kemungkinan semua semua alternative tindakan dan
konsekuensinya. Akibatnya, keputusan optimis terbuat. Pendekatan klasik ini
merupakan modelyang sangat rasional untuk pembuat keputusan manajerial.
2. Model
Keputusan Administratif
Pendekatan administrative
menggambarkan perilaku yang sangat berbeda dengan pendekatan rasional.
Pendekatan rasional menjelaskan model ideal, yaitu bagaimana manajer seharusnya
berperilaku dalam dalam pengambilan keputusan. Sedangka pendekatan administrative
menggambarkan perilaku yang lebih realitas dalam pengambilan keputusan.
HEURISTIK PENILAIAN
Heuristik
yaitu strategi yang disederhanakan dalam pengambilan keputusan.
Tiga
macam heuristic yang sering dipakai
orang dalam pengambilan keputusan, yaitu:
a). Ketersediaan (availabikity heuristic)
Terjadi
ketika orang menggunakan informasi “yang telah tersedia” dari memori sebagai
basis penilaian situasi atau peristiwa yang sedang berlangsung.
b). Perwakilan (representativeness heuristic)
Terjadi
bila orang menilai kemiripan sesuatu berdasarkan steroitip seperangkat
peristiwa yang sama.
c). Penyesuaian dan anchoring (anchoring and adjusmen heuristic)
Meliputi
pembuat keputusan terhadap penyesuaian terhadap nilai atau titik tolak yang
telah ada.
2.7.KEPUTUSAN
INDIVIDU DAN KELOMPOK
Dalam keputusan
individual, manajer membuat pilihan tindakan yang disukai. Keputusan ini dibuat
sendiri, berdasarkan informasi yang dimiliki manajer, dan tanpa partisipasi
orang lain.
Beberapa
perbedaan individu mempengaruhi pengambilan keputusan. Beberapa factor perilaku
hanya mempunyai aspek-aspek tertentu dari proses pengambilan keputusan,
sedangkan factor-faktor lain mempengaruhi seluruh proses. Factor-faktor perilaku
tersebut meliputi kepribadian, nilai, kecenderungan akan resiko dan kemungkinan
ketidakcocokan.
Kepribadian
Para
pengambil keputusan dipengaruhi oleh salah satunya yang terpenting adalah kepribadian
mereka. Sebuah penelitian telah berusaha menentukan pengaruh dari beberapa variable
terpilih terhadap proses pengambilan keputusan. Penelitian tersebut tidak hanya
memusatkan perhatian pada serangkaian variable kepribadian, tetapi juga memasukkan
tiga rangkaian variable lain, yaitu :
1.
Variable kepribadian. Hal ini mencakup sikap, kepercayaan,
dan kebutuhan individu.
2.
Variable situasional. Menyinggung situasi ekstern, yang dapat
diamati, yang dihadapi oleh orang-orang itu sendiri.
3.
Variable interaksional. Ini menyinggung keadaan pada saat
itu dari orang-orang sebagai akibat dari interaksi situasi tertentu dengan ciri-ciri
khas kepribadian orang.
Nilai
nilai
adalah pedoman yang digunakan setiap orang ketika berhadapan dengan situasi dimana
suatu keputusan harus dibuat. Pengaruh nilai dapat dilihat dari setiap proses
pengambilan keputusan manajemen, sebagai berikut :
1. Dalam
menetapkan sasaran, pertimbangan nilai perlu sekali mengenai pemilihan kesempatan
dan penentuan prioritas.
2. Dalam
mengembangkan alternative, orang perlu mempertimbangkan nilai mengenai berbagaimacam
kepemimpinan.
3. Apabila
memilih alternative, nilai dari orang yang mengambil keputusan mempengaruhi
alternative manakah yang akan dipilih.
4. Apabila
melaksanakan keputusan, pertimbangan nilai sangat perlu dalam memilih cara melaksanakannya.
5. Dalam
fase evaluasi dan pengendalian, pertimbangan nilai tidak dapat dihindari apabila
mengambil tindakan koreksi.
Kecenderungan
akan risiko
Seorang
pengambil keputusan yang agak segan mengambil risiko akan menetapkan sasaran
yang berbeda, mengevaluasi alternative secara berbeda juga, dan memilih
alternative yang berbeda dari orang lain yang mengambil keputusan dalam situasi
yang sama. Orang tersebut akan berusaha menetapkan pilihan dimana risiko atas ketidakpastian
sangat rendah atau dimana kepastian akan hasilnya sangat tinggi.
Kemungkinan
ketidakcocokan
Sangat
dimungkinkan bahwa keputusan yang diambil seseorang nantinya tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan. Ketidakcocokan itu nantinya akan menimbulkan kegelisahan tersendiri
bagi pengambil keputusan. Terjadinya kegelisahan setelah keputusan (occurrence of postdecision anxiety) berkaitan dengan apa yang dinamakan oleh Festinger
“disonansi kognitif” atau ketidakcocokan kognitif (cognitive dissonance).
Apabila terjadi ketidakcocokan,
maka ketidakcocokan ini dapat dikurangi dengan mengakui bahwa telah terjadi kesalahan.
Beberapa metode ini untuk mengurangi ketidakcocokan mereka, yaitu :
1. Mencari
informasi yang mendukung kebijaksanaan dari keputusan mereka.
2. Secara
selektif memahami informasi dengan sesuatu cara yang dapat mendukung keputusan mereka.
3. Mengubah
sikap mereka sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alternative
yang telah ditetapkan sebelumnya.
4. Mengelakkan
pentingnya segi-segi negative dan mempertinggi unsur-unsur.
Selain
pengambilan keputusan individual, alternative lain dari pengambilan keputusan adalah
pengambilan keputusan kelompok. Pengambilan keputusan kelompok memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.
Keuntungan
·
Informasi dan pengetahuan lebih banyak
·
Lebih banyak alternative yang dapat dihasilkan
·
Penerimaan terhadap hasil akhir akan lebih
besar
·
Komunikasi yang lebih baik akan muncul
Kerugian
·
Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya
yang lebih besar karena waktu yang hilang lebih banyak
·
Menimbulkan kompromitis
·
Satu atau beberapa orang barangkali akan
mendominasi kelompok
·
Tekanan kelompok akan muncul dan membatasi
kreativitas individual
Untuk meminimumkan kerugian
dari pengambilan keputusan kelompok, perlu dilakukan beberapa penyesuaian-penyesuaian.
Misalnya, untuk menghindari waktu yang berlarut-larut, dapat ditentukan jadwal
(deadline), tidak memasang atau menempatkan orang-orang yang diperkirakan akan mendominasi
keputusan, atau dipasang beberapa orang dominan agar ada perimbangan dalam kelompok
tersebut. Untuk menghindari tekanan kelompok, manajer dapat mengingatkan anggota
kelompok bahwa kreativitas sangat dihargai, tidak ada salah dan benar dalam diskusi.
2.8. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Banyak
factor yang mempengaruhi individu dan kelompok dalam mengambil keputusan,
antara lain;
1.
Faktor internal
Dari dalam diri manajer sangat
mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Factor internal tersebut meliputi:
keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik, cultural social, latar
belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat, pengetahuan,dan sikap pengambilan
keputusan yang dimiliki.
2.
Faktor eksternal
Factor eksternal termasuk kondisi
dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam
pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah bagaimanaevaluasi itu dapat
dilaksanakan. nilai dilakukan oleh salah satu kultural, sosial, latar belakang,
filosofi, social, dan kultural.
BAB III
PENUTUPAN
3.1. KESIMPULAN
Dari penjelasan yang kami
paparkan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah melakukan
penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui
beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan,
ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Dimana
pengambilan keputusan ini ditanggung dan diputuskan oleh pemimpin organisasi
yang bersangkutan dan untuk menghasilkan keputusan yang baik itu sangat
dibutuhkan informasi yang lengkap mengenai permaslahan, inti masalah,
penyelesaian masalah, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Selain informasi dalam
penyelesaian masalah pun perumusan masalah dengan baik. Kemudian dibutuhkan
alternatif-alternatif keputusan masalah disertai dengan konsekuensi postif dan
negative. Jika semua hal itu dapat dikemukakan dan dicari secara tepat, masalah
tersebut akn mudah diselasaikan.
DAFTAR PUSTAKA
·
Amirullah,
& budiyono, Haris. (2004). Pengantar manajemen. Yogyakarta: Penerbit Graha
Ilmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar